Sunday, 22 July 2012

Laporan Praktikum Patologi Klinik Pemeriksaan Kadar Gula Darah



LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK
PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH





Disusun Oleh :
KELAS 6G / Gelombang 2
KELOMPOK III
Aulia Dinika N.A        (0904015033)
Dewi Puspita Sari       (0904015062)
Hafilia Haznawati       (0904015115)
Nurul Anggraeni         (0904015207)
Sulistiani                     (0904015262)
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Glukosa terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot rangka. Kadar glukosa dipengaruhi oleh 3 macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon-hormon itu adalah : insulin, glukagon, dan somatostatin.
Didalam darah terdapat zat glukosa, glukosa ini gunanya untuk dibakar agar mendapatkan kalori atau energi. Sebagian glukosa yang ada dalam darah adalah hasil penyerapan dari usus dan sebagian lagi dari hasil pemecahan simpanan energi dalam jaringan. Glukosa yang ada di usus bisa berasal dari glukosa yang kita makan atau bisa juga hasil pemecahan zat tepung yang kita makan dari nasi, ubi, jagung, kentang, roti atau dari yang lain.
Glukosa, fruktosa dan galaktosa masuk melalui dinding usus halus kedalam aliran darah. Fruktosa dan galaktosa akan diubah dalam tubuh menjadi glukosa. Glukosa merupakan hasil akhir dari pencernaan dan diabsorbsi secara keseluruhan sebagai karbohidrat. Kadar glukosa dalam darah bervariasi dengan daya penyerapan, akan menjadi lebih tinggi setelah makan dan akan menjadi turun bila tidak ada makanan yang masuk selama beberapa jam. Glikogen dapat lewat dengan bebas keluar dan masuk ke dalam sel dimana glukosa dapat digunakan semata-mata sebagai sumber energi. Glukosa disimpan sebagai glikogen di dalam sel hati oleh insulin (suatu hormon yang disekresi oleh pankreas). Glikogen akan diubah kembali menjadi glukosa oleh aksi dari glukogen (hormon lain yang disekresi oleh pankreas) dan adrenalin yaitu suatu hormon yang disekresi oleh kelenjar adrenalin.
Penurunan kadar glukosa darah (hipoglikemia) terjadi akibat asupan makanan yang tidak adekuat atau darah terlalu banyak mengandung insulin. Peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) terjadi jika insulin yang beredar tidak mencukupi atau tidak dapat berfungsi dengan baik; keadaan ini disebut diabetes mellitus. Apabila kadar glukosa plasma atau serum sewaktu (kapan saja, tanpa mempertimbangkan makan terakhir) sebesar ≥ 200 mg/dl, kadar glukosa plasma/serum puasa yang mencapai > 126 mg/dl, dan glukosa plasma/serum 2 jam setelah makan (post prandial) ≥ 200 mg/dl biasanya menjadi indikasi terjadinya diabetes mellitus.
Kadar glukosa puasa memberikan petunjuk terbaik mengenai homeostasis glukosa keseluruhan, dan sebagian besar pengukuran rutin harus dilakukan pada sampel puasa. Keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi kadar glukosa (mis. diabetes mellitus, kegemukan, akromegali, penyakit hati yang parah, dsb.) mencerminkan kelainan pada berbagai mekanisme pengendalian glukosa.
Uji gula darah post prandial biasanya dilakukan untuk menguji respons penderita terhadap asupan tinggi karbohidrat 2 jam setelah makan (sarapan pagi atau makan siang). Untuk kasus-kasus hiperglikemia atau bahkan hipoglikemia yang tak jelas, biasanya dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO). TTG oral dipengaruhi oleh banyak variable fisiologik dan menjadi subjek dari bahan interpretasi diagnostik yang berbeda-beda. Uji toleransi glukosa intravena jarang diindikasikan untuk tujuan diagnosis.
Tujuan praktikum :
Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.      Menyimpulkan hasil pemeriksaan glukosa darah pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal.
2.      Mengetahui dan menjelaskan manfaat pemeriksaan glukosa darah untuk menegakan diagnosa penyakit diabetes mellitus.
3.      Menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Glukosa
Glukosa adalah gula yang terpenting bagi metabolisme tubuh, dikenal juga sebagai gula fisiologis. Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Sedangkan dalam tumbuhan Glukosa 6-fosfat yang dihasilkan selama fotosintesis adalah precursor dari tiga jenis karbohidrat tumbuhan, yaitu sukrosa, pati dan selulosa. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Meskipun disebut “gula darah”, selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa yang diatur melalui insulin dan leptin. Glukosa diperlukan sebagai sumber energi terutama bagi sistem saraf dan eritrosit. Glukosa juga dibutuhkan, didalam jaringan adipose sebagai sumber gliserida-gliserok, dan mungkin juga berperan dalam mempertahankan kadar senyawa antara pada siklus asam sitrat di dalam banyak jaringan tubuh.
Glukosa berasal sebagian besar diperoleh dari makanan, kemudian dibentuk dari berbagai senyawa glukogenik yang mengalami glukoneogenesis lalu juga dibentuk dari glikogen hati melalui glikogenolisis. Setelah makan tinggi karbohidrat, kadar glukosa darah akan meningkat dari kadar puasa sekitar 80-100 mg/dl ke kadar sekitar 120-140 mg/dl, dalam periode 30 menit sampai 1 jam. Konsentrasi glukosa dalam darah kemudian menurun kembali ke rentang puasa dalam waktu sekitar 2 jam setelah puasa. Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil di dalam darah merupakan salah satu mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan juga menjadi salah satu mekanisme di hepar, jaringan ekstrahepatik serta beberapa hormon. Peningkatan konsentrasi glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan sekresi insulin dan pengurangan sekresi glukagon, demikian sebaliknya. Nilai normal kadar glukosa serum atau plasma adalah 75 – 115 mg/dl.
Hormon yang paling penting untuk mengatur kadar gula darah adalah insulun dan glukagon. Hormon lain yang berpengaruh terhadap kadar glukosa darah  antara lain : glukokortikoid, epinefrin, dan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.
1.      Insulin
             Insulin dihasilkan oleh sel-sel β, mendominasi gambaran metabolik. Hormon ini dapat menurunkan kadar glukosa darah serta mendorong penyimpanan glukosa. Insulin meningkatkan penyerapan glukosa oleh sel menjadi glikogen. Insulin mempermudah masuknya glukosa ke dalam sel dengan difusi terfasilitasi melalui fenomena transporter rekuitmen. Protein pembawa glukosa dikenal sebagai glukosa transporter. Pengangkut tersebut disekresi oleh sel sebagai respon adanya insulin sehingga pengangkutan nutrient dari plasma ke dalam sel meningkat.
             Beberapa jaringan tidak tergantung pada konsentrasi insulin dalam menyerap glukosa, yaitu : otak, otot yang aktif, dan hati.otak memerlukan glukosa setiap saat untuk memenuhi kebutuhan energinya sehingga mudah dimasuki glukosa setiap saat. Tanpa alasan yang jelas, otot rangka juga tidak bergantung insulin dalam menyerap glukosa selama beraktivitas.
2.      Glukagon
             Merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel-sel α pulau-pulau Langerhans pankreas. Sekresi hormon ini dirangsang keadaan hipoglikemia. Pada saat mencapai hati melalui vena porta, hormon glukagon menimbulkan glikogenolisis dengan mengaktifkan enzim fosforilase. Sebagian besar glukagon endogen ­dan insulin dibersihkan dari sirkulasi darah oleh hati. Ber­beda dengan epinefrin, glukagon tidak mempunyai pengaruh pada enzim fosforilase otot. Glukagon juga meningkatkan glukoneogenes­is dari asam amino dan laktat. Pada semua cara kerja ini, glukagon bekerja dengan menghasilkan cAMP. Baik glikogenolisis maupun glukoneogenesis di hati sama-sama menimbulkan efek hiperglikemia glukagon, yang kerjanya berlawanan dengan insulin.
             Sel hati dapat dilewati glukosa dengan bebas. Oleh karena itu me­rupakan sarana utama untuk mengatur konsentrasi glukosa darah. Sel tersebut memiliki enzim glukokinase dengan nilai K yang tinggi, yang secara spesifik disesuaikan dengan fungsi pengeluaran glukosa sesudah makan. Insulin disekresikan sebagai respons langsung terhadap hiperglikemia. Hormon ini bersifat anabolik yang bertugas mem­bantu hati untuk menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan memfasilitasi ambilan glukosa oleh jaringan ekstrahepatik.
             Insulin juga memilki efek menghambat glukogenolisi dengan menghambat penguraian glukogen di jaringan menjadi glukosa. Insulin selanjutnya menghambat pembentukan glukosa oleh hati dengan menghambat glukoneogenesis (perubahan asam amino menjadi glukosa di hati). Oleh karena itu, insulin menurunkan konsentrasi glukosa darah dengan meningkatkan penyimpanan dan penggunaan glukosa darah oleh sel.
3.      Somatostatin
             Somatostatin dikeluarkan oleh sel-sel δ pancreas sebagai respon langsung terhadap peningkatan glukosa dan asam amino darah selama proses absorbsi makanan. Hormone ini bertugas menghambat kecepatan pncernaan dan penyerapan makanan sehingga tidak terjadi peningkatan nutrient yang berlebihan di dalam plasma. Somatostatin juga memiliki efek local untuk mengurangi pengeluaran hormon-hormon yang dihasilkan pankreas.
4.      Glukokortikoid
             Glukokortikoid disekresikan oleh korteks adrenal dan sangat penting di dalam metabolisme karbohidrat. Hormon ini menyebabkan peningkatan glukoneogenesis. Hal ini terjadi akibat peningkatan katatabolisme protein di jaringan, peningkatan ambilan asam amino hati, dan peningkatan aktivitas enzim transaminase serta enzim lainnya yang berhubungan dengan glukoneogenesis di hati. selain itu, glukokortikoid menghambat penggunaan glukosa di jaringan ekstrahepatik kecuali otak. Glukokortikoid bekerja secara antagonistik terhadap insulin.
5.      Epineprin
             Hormon ini disekresikan oleh medula adrenal akibat rangsangan yang menimbulkan stres (ketakutan, kegembiraan, kelelahan, hipoksia, hipoglikemia, d11.) dan menimbulkan gliko­lisis di hati serta otot karena stimulasi enzim fosforilase dengan menghasilkan cAMP. Akibat tidak adanya enzim glukosa-6-fosfatase di otot, glikogenolisis terjadi dengan bentukan laktat, sedangkan di hati glukosa merupakan produk utama yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah.
6.      Hormon tiroid
             Hormon tiroid juga berpengaruh terhadap glukosa darah. Terdapat bukti-bukti eksperimental bahwa tiroksin mempunyai kerja diabetogenik dan bahwa tindakan tiroidektomi menghambat perkembangan diabetes. Kadar glukosa puasa tampak naik di antara pasien-pasien hipertiroid dan menurun di antara pasien-pasien hipotiroid. Meskipun demikian, pasien hipertiroid menggunakan glukosa dengan kecepatan yang normal atau meningkat, sedangkan pasien hipotiroid mengalami penurunan kemampuan dalam menggunakan glukosa. Di samping itu, pasien hipotiroid mempunyai sensitivitas terhadap insulin yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan orang-orang normal atau penderita hipertiroid.
Jenis dan metode Pengukuran Glukosa Darah
Jenis Pemeriksaan Glukosa Darah
Dikenal beberapa jenis pemeriksaan yang berhubungan dengan pemeriksaan glukosa darah yaitu:
a.       Glukosa darah puasa Sebelum pemeriksaan ini dilakukan pasien harus puasa 10 – 14 jam.
b.      Glukosa darah sewaktu Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien tanpa perlu memperhatikan waktu terakhir pasien makan.
c.       Glukosa darah 2 jam PP Pemeriksaan ini sukar sekali distandarisasikan, karena makanan yang dimakan baik jenis maupun jumlahnya sukar disamakan dan juga sukar diawasi dalam tenggang waktu 2 jam untuk tidak makan dan minum lagi, juga selamamenunggu pasien perlu duduk istirahat tenang dan tidak melakukan kegiatan jasmani (berat) serta tidak merokok.
Secara umum ada 2 macam metode yang berlainan untuk menentukan kadar glukosa, yaitu:
a.       Metode Kimia
1)      Reduksi (Glukc-DH®).
Metode ini adalah sebuah metode rutin enzimatik oleh karena spesifikasinya yang tinggi, kepraktisan dan keluwesannya. Pengukuran dilakukan pada daerah UV. Prinsip metode ini adalah glukosa dehidrogenase mengkatalisis oksidasi dari glukosa. Metode Gluck-DH® dapat digunakan pada bahan sampel yang dideproteinisasi atau yang tidak dideproteinisasi serta untuk hemolysate.
2)      Metode Kondensasi Gugus Amino (O-Toluidine).
Prinsip metode ini adalah glukosa bereaksi dengan O-toluidin dalam asam asetat panas dan menghasilkan senyawa berwarna hijau yang dapat ditentukan secara fotometer. Penentuan glukosa dengan O-toluidin dapat digunakan untuk bahan sampel yang dideproteinisasi maupun yang tidak di-deproteinisasi.
Beberapa kelemahan / kekurangannya adalah metode kimia ini memerlukan langkah pemeriksaan yang panjang dengan pemanasan, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan lebih besar. Selain itu reagen pada metode ortho-toluidin bersifat korosif.
b.      Metode Enzimatik
1)      Metode Glukosa Oksidase (GOD-PAP)
Prinsip: Enzim glukosa oksidase menkatalisis reaksi oksidasi glukosa menjadi glukonolakton dan hydrogen peroksida.
Glukosa + O2      glukosa oksidase        O-glukono-δ-lakton + H2O2

Penambahan enzim perokidase dan aseptor oksigen kromogenik seperti Odianisidine.

O-dianisidine (red) +H2O2    peroksidase        O-dianiside (oks) + H2O.

Enzim glukosa oksidase yang digunakan pada reaksi pertama menyebabkan sifat reaksi pertama spesifik untuk glukosa, khususnya B-D glukosa, sedangkan reaksi kedua tidak spesifik, karena zat yang bisa teroksidasi dapat menyebabkan hasil pemeriksaan lebih rendah. Asam urat, asam askorbat, bilirubin dan glutation menghambat reaksi karena zat-zat ini akan berkompetisi dengan kromogen bereaksi dengan hidrogen peroksida sehingga hasil pemeriksaan akan lebih rendah. Keunggulan dari metode glukosa oksidase adalah karena murahnya reagen dan hasil yang cukup memadai.

2)      Metode Heksokinase
Prinsip: Heksokinase akan mengkatalis reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa 6-fosfat dan ADP. Enzim kedua yaitu glukosa 6-fosfat dehidrogenase akan mengkatalis oksidasi glukosa 6-fosfat dengan nikolinamide adnine dinueleotide phosphate (NAPP+)
Glukosa + ATP     peroksidase    Glukosa-6-fosfat + ADP
Glukosa-6-fosfat +NAD (P)  G-6-PD   6-fosfoglukonat + NAD(P)H + H+

3)      Reagen Kering (Gluco DR)
Adalah alat pemeriksaan glukosa darah secara invitro, dapat dipergunakan untuk mengukur kadar glukosa darah secara kuantitatif, dan untuk screening pemeriksaan kadar glukosa darah. Sampel dapat dipergunakan darah segar kapiler atau darah vena, tidak dapat menggunakan sampel berupa plasma atau serum darah.
Prinsip : Tes strip menggunakan enzim glukosa oksidase dan didasarkan pada teknologi biosensor yang spesifik untuk pengukuran glukosa, tes strip mempunyai bagian yang dapat menarik darah utuh dari lokasi pengambilan / tetesan darah kedalam zona reaksi. Glukosa oksidase dalam zona reaksi kemudian akan mengoksidasi glukosa di dalam darah. Intensitas arus electron terukur oleh alat dan terbaca sebagai konsentrasi glukosa di dalam sampel darah.
Kelainan kelainan Glukosa
1.      Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak atau berlebihan, yang akhirnya akan menjadi penyakit yang disebut Diabetes Melitus (DM) yaitu suatu kelainan yang terjadi akibat tubuh kekurangan hormone insulin, akibatnya glukosa tetap beredar di dalam aliran darah dan sukar menembus dinding sel. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh stress, infeksi, dan konsumsi obat-obatan tertentu. Kelainan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan penurunan toleransi glukosa akibat berkurangnya sekresi insulin sebagai respon terhadap pemberian glukosa. Hiperglikemia ditandai dengan poliuria, polidipsi, dan poliphagia, serta kelelahan yang parah dan pandangan yang kabur.
            Manifestasi klinis penyakit ini berupa kenaikan kadar glukosa darah (hiperglikemia) dan glikosuria yang dapat disertai perubahan pada metabolisme lemak.
Berdasarkan etiologinya, diabetes melitus dapat diklasifikasikan menjadi:
ü  Diabetes Melitus Tipe 1
Destruksi sel β umumnya menjurus ke arah defisiensi insulin absolute melalui proses imunologik (Otoimunologik) dan idiopatik yang belum diketahui secara jelas penyebabnya.
ü  Diabetes Mellitus Tipe 2
Tipe ini bervariasi dan paling sering ditemukan, mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Faktor genetik dan lingkungan berpengaruh besar terhadap terjdinya DM tipe 2, antara lain diet tinggi lemak dan kurang serat, obesitas, serta kurang aktivitas.
ü  Diabetes Mellitus Tipe Lain
Diabetes golongan ini disebabkan karena banyak faktor, antara lain: defek genetik fungsi sel β, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pancreas, Endokrinopati, Diabetes karena obat/zat kimia: (Glukokortikoid, hormon tiroid, asam nikotinat, pentamidin, vacor, tiazid, dilantin, interferon), Diabetes karena infeksi
ü  Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes tipe ini muncul pada masa kehamilan dan umumnya bersifat reversibel, tetapi merupakan faktor risiko untuk DM Tipe 2. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita diabetes tipe ini juga beresiko terkena DM dikemudian hari, apalagi jika lahr dengan berat badan lebih dari empat Kg.

  1. Hipoglikemi
            Hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal, yang dapat terjadi karena ketidak seimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik dan obat-obatan yang digunakan. Jika hipoglikemia tidak segera diatasi, bisa menyebabkan kejang atau pingsan. Kadar gula darah yang rendah biasanya menimbulkan ; sakit kepala, gemetar, kepala pening, lapar, kulit dingin atau lembab, denyut jantung cepat, gelisah.














BAB III
METODELOGI PENELITIAN
Alat :
§  Lanset steril/ semprit 2 ml
§  Kapas alcohol 70%
§  Tabung reaksi
§  Zentrifugen mikro
§  Fotometer klinikal varta 506
Reagen :
§  Darah manusia
§  Reagen “kit” glukosa.
Prosedur :
1.      Pengambilan darah
Darah diambil kira-kira 1 ml, kemudian darah tersebut disentrifuge pada putaran 4000 rpm selama 15 menit agar diperoleh serum darah
2.      Pengukuran kadar glukosa darah
§  Atur alat ke nol dengan reagen blanko
§  Masukkan kedalam kuvet

Blanko Reagen
Sampel
Reagen (ml)
1,0
1,0
Standar (µl)
-
10

§  Ambil plasma sebanyak 10 µl, lalu dicampur reagen (pereaksi glukosa kit) sebanyak 1000 µl,
§  Kemudian di vortexs dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C atau 10 menit pada suhu 20 – 250
§  Kemudian diukur kadarnya menggunakan fotometer klinikal.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. HASIL
No
Nama Mahasiswa
Kadar Glukosa Darah
1.
Juni
74,42 mg/dL
2.
Dewan
59,05 mg/dL

  1. PEMBAHASAN
      Tujuan dari percobaan kali ini adalah menyiapkan pasien untuk pemeriksaan glukosa dalam darah dan menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh. Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Glukosa darah berasal dari glukoneogenesis dan glikogenolisis. Sebagian besar karbohidrat yang dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum yang kemudian diangkut ke hati melalui vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa dengan segera dikonfersi menjadi glukosa.
            Kadar glukosa darah pada orang normal dijaga tubuh agar tetap berada diantara 70-120 mg/dL (4-7 mmol/L) dengan menjaga keseimbangan antara produksi dan pemakaian glukosa.
            Pada praktikumnya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah pada sampel. Sampel yang digunakan ialah serum darah dari juni dan dewan. Pada pelaksanaannya dilakukan seperti pada pemeriksaan trigliserida. Setelah serum diambil sebanyak 10μl yang kemudian ditambahkan reagen sebanayk 1 ml, kemudian campuran dalam tabung eppendrof tersebut di vortex sampai tercampur. Setelah itu di inkubasi selama 3 menit. Kemudian dilakukan penghitungan kadar menggunakan spektrofotometer klinikal varta. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil kadar glukosa dalam darah untuk sampel Juni sebesar 74,42 mg/dl sedangkan untuk Dewan 59,05 mg/dl. Hal ini menunjukan kadar glukosa darah dalam keadaan normal karena dalam rentan 75 – 115 mg/dl. Konsentrasi glukosa dalam darah manusia normal antara 80 dan 100 mg/100ml. Setelah makan makanan dengan sumber karbohidrat, konsentrasi glukosa darah dapat naik sampai 120-130 mg/100 mL, kemudian akan kembali normal setelah beberapa saat. Sebaliknya, dalam keadaan puasa konsentrasi glukosa darah turun hingga 60-70 mg/100 mL. Kondisi glukosa darah yang lebih tinggi dari pada normal disebut hiperglikemia, sedangkan yang lebih rendah daripada normal disebut hipoglikemia. Bila konsentrasi terlalu tinggi maka sebagian glukosa dikeluarkan dari tubuh melalui urin.











BAB V
KESIMPULAN
·         Glukosa adalah gula yang terpenting bagi metabolisme tubuh, dikenal juga sebagai gula fisiologis. Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Glukosa darah berasal dari glukoneogenesis dan glikogenolisis. Sebagian besar karbohidrat yang dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa.
·         Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan dengan alat Fotometer klinikal varta 506 menggunakan reagen ‘’kit’’ glukosa.
·         Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil kadar glukosa dalam darah untuk sampel Juni sebesar 74,42 mg/dl sedangkan untuk Dewan 59,05 mg/dl. Hal ini menunjukan kadar glukosa darah dalam keadaan normal karena dalam rentan 75 – 115 mg/dl.
·         Keadaan glukosa darah yang melebihi batas normal dikenal dengan keadaan hiperglikemi. Sedangkan kadar glukosa darah rendah disebut hipoglikemi.









BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

·                                             Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 1997. Efek Insulin Terhadap Metabolisme Karbohidrat dan Lemak.  Dalam: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.  Jakarta: EGC. 1221-38.
·                                             Murrey, Robert K, at all. 2003. Glikolisis dan Oksidasi piruvat. Dalam : Biokimia Harper edisi 25. Jakarta : EGC. 200-4.
·                                             Poedjiadi, Anna. 1994. Metabolisme Karbohidrat. Dalam: Dasar – dasar Biokim. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). 259-62.
·                                             Price, Sylvia A, at all. 2006. Pankreas : Metabolisme Glukosa dan Diabetes Melitus. Dalam : Patofisiologi  Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit  edisi 6: Jakarta : EGC. 1110-9.



















LAMPIRAN

Sampel darah juni.

Sampel darah dewan.


No comments:

Post a Comment