Minggu, 08 Juli 2012

Laporan Praktikum Patologi Klinik Pemeriksaan Elektrolit


LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK
PEMERIKSAAN ELEKTROLIT





Disusun Oleh :
KELAS 6G / Gelombang 2
KELOMPOK III
Aulia Dinika N.A        (0904015033)
Dewi Puspita Sari       (0904015062)
Hafilia Haznawati       (0904015115)
Nurul Anggraeni         (0904015207)
Sulistiani                     (0904015262)
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2012 

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
            Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca2+), magnesium (Mg+), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif.


Tujuan praktikum
Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1.      Menyimpulkan hasil pemeriksaan elektrolit pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal.
2.      Mengetahui dan menjelaskan manfaat pemeriksaan elektrolit.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai muatan positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut disebut sebagai anion. Contoh dari kation adalah natrium (Na+) dan nalium (K+) & contoh dari anion adalah klorida (Cl- ) dan bikarbonat (HCO3- ). Elektrolit - elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di dalam tubuh antara lain adalah natrium (Na+), kalium (K+ ), kalsium (Ca+), magnesium (Mg+), klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-) dan sulfat (SO42-). Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H2O) - elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel dan organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini akan memiliki fungsi antara lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (body’s fluid compartement), menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta ikut berperan dalam setiap proses metabolisme.
Natrium  (Na+)
Di dalam produk pangan atau di dalam tubuh, natrium biasanya berada dalam bentuk garam seperti natrium klorida (NaCl). Di dalam molekul ini, natrium berada dalam bentuk ion sebagai Na. Diperkirakan hampir 100 gram dari ion natrium (Na+ ) atau ekivalen dengan 250 gr NaCl terkandung di dalam tubuh manusia. Garam natrium merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh dengan minimum kebutuhan untuk orang dewasa berkisar antara 1.3-1.6 gr/hari (ekivalen dengan 3.3-4.0 gr NaCl/hari). Setiap kelebihan natrium yang terjadi di dalam tubuh dapat dikeluarkan melalui urin & keringat. Hampir semua natrium yang terdapat di dalam tubuh akan tersimpan di dalam soft body tissue dan cairan tubuh. Ion natrium (Na+ ) merupakan kation utama di dalam cairan ekstrasellular (ECF) dengan konsentrasi berkisar antara 135-145 mmol/L. Ion natrium juga akan berada pada cairan intrasellular (ICF) namun dengan konsentrasi yang lebih kecil yaitu ± 3 mmol/L. Sebagai kation utama dalam cairan ekstrasellular, natrium akan berfungsi untuk menjaga keseimbangan
cairan di dalam tubuh, menjaga aktivitas saraf , kontraksi otot dan juga akan berperan dalam proses absorpsi glukosa. Pada keadaan normal, natrium (Na+ ) bersama dengan pasangan (terutama klorida, Cl- ) akan memberikan kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif osmolalitas di dalam cairan ekstrasellular.
Nilai normal dalam serum :
Dewasa           135 – 145 mEq/L
Anak               135 – 145 mEq/L
Bayi                 134 – 150 mEq/L

Nilai normal dalam urin :
40 - 220 mEq/L/24 jam
Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung, diet rendah garam, gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik (obat untuk darah  tinggi yang fungsinya mengeluarkan air dalam tubuh). Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung kronis, dehidrasi, asupan Na dari makanan tinggi, gagal hepatik (kegagalan fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat batuk, obat golongan laksansia  (obat pencahar). Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan Iain-Iain.), keju,/.buah ceri, saus tomat, acar, dan Iain-Iain.
Kalium (K+)
Merupakan ion bermuatan positif (kation) utama yang terdapat di dalam cairan intrasellular (ICF) dengan konsentrasi ±150 mmol/L. Sekitar 90% dari total kalium tubuh akan berada di dalam kompartemen ini. Sekitar 0.4% dari total kalium tubuh akan terdistribusi ke dalam ruangan vascular yang terdapat pada cairan ekstraselular dengan konsentrasi antara 3.5-5.0 mmol/L. Konsentrasi total kalium di dalam tubuh diperkirakan sebanyak 2g/kg berat badan. Namun jumlah ini dapat bervariasi bergantung terhadap beberapa faktor seperti jenis kelamin, umur dan massa otot (muscle mass). Kebutuhan minimum kalium diperkirakan sebesar 782 mg/hari. Di dalam tubuh kalium akan mempunyai fungsi dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan  keseimbangan asam basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca+ ) dan natrium (Na+ ), kalium akan berperan dalam transmisi saraf, pengaturan enzim dan kontraksi otot. Hampir sama dengan natrium, kalium juga merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh. Setiap kelebihan kalium yang terdapat di dalam tubuh akan dikeluarkan melalui urin serta keringat.
Nilai normal : 
Dewasa           3,5 – 5,0 mEq/L
Anak               3,6 – 5,8 mEq/L
Bayi                 3,6 – 5,8 mEq/L
Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal, penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin, dan Iain-Iain. Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika pemasukan kalium dari makanan rendah, pengeluaran lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan. Garam adalah suatu senyawa kimia sederhana yang terdiri dari atom-atom yang membawa ion positif maupun ion negatif.  Misalnya garam meja (natrium klorida) terdiri dari ion positif natrium dan ion negatif klorida.  Natrium klorida membentuk kristal pada keadaan kering, tetapi seperti garam lainnya dalam tubuh, mudah dilarutkan dalam air.  Jika garam larut dalam air, komponennya terpisah sebagai partikel yang disebut ion.  Partikel ion terlarut ini dikenal sebagai elektrolit.  Kadar (konsentrasi) setiap elektrolit dalam larutan dari garam terlarut dapat diukur dan biasanya dihitung dalam satuan miliekuivalen dalam setiap volume larutan (mEq/L). Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis, dll.
Klorida (Cl-)
Elektrolit utama yang berada di dalam cairan ekstraselular (ECF) adalah elektrolit bermuatan negatif yaitu klorida (Cl- ). Jumlah ion klorida (Cl- ) yang terdapat di dalam jaringan tubuh diperkirakan sebanyak 1.1 g/Kg berat badan dengan konsentrasi antara 98-106 mmol/L. Konsentrasi ion klorida tertinggi terdapat pada cairan serebrospinal seperti otak atau sumsum tulang belakang, lambung dan juga pankreas. Sebagai anion utama dalam cairan ekstraselullar, ion klorida juga akan berperan dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit. Selain itu, ion klorida juga mempunyai fungsi fisiologis penting yaitu sebagai pengatur derajat keasaman lambung dan ikut berperan dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Bersama dengan ion natrium (Na+), ion klorida juga merupakan ion dengan konsentrasi terbesar yang keluar melalui keringat.
Calcium (Ca2+)
Fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah.  Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.
Magnesium (Mg+)
Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.
Elektrolit terlarut dalam tiga bagian utama dari cairan tubuh:
E Cairan dalam sel
E Cairan dalam ruang di sekeliling sel
E Darah (elektrolit terlarut dalam serum, yang merupakan bagian cair dari darah).
Kadar normal elektrolit dalam cairan tersebut bervariasi. Beberapa sel ditemukan dalam konsentrasi tinggi di dalam sel dan dalam konsentrasi rendah di luar sel. Elektrolit lainnya ditemukan dalam konsentrasi rendah di dalam sel dan dalam konsentrasi tinggi di luar sel.  Untuk dapat berfungsi secara baik, tubuh harus menjaga konsentrasi elektrolit pada masing-masing bagian tubuh tersebut dalam rentang yang sangat terbatas.  Hal itu dilakukan dengan cara memindahkan elektrolit ke dalam atau keluar sel.  Ginjal menyaring elektrolit dalam darah dan membuang elektrolit secukupnya ke dalam air kemih untuk mempertahankan keseimbangan antara asupan dan pembuangan elektrolit harian.  Konsentrasi elektrolit dapat diukur dalam contoh darah atau air kemih di laboratorium.  Pengukuran konsentrasi elektrolit darah dilakukan untuk menemukan adanya kelainan atau untuk mengetahui respon terhadap pengobatan.  Elektrolit yang paling sering terlibat dalam gangguan keseimbangan garam adalah natrium, kalium, kalsium, fosfat dan magnesium.  Kadar klorida dan bikarbonat juga biasa diukur. Konsentrasi klorida darah biasanya sejalan dengan konsentrasi natrium darah dan bikarbonat terlibat pada gangguan keseimbangan asam basa.
Elektrolit utama dalam tubuh:
Ion positif       : Natrium (Na+); Kalium (K+); Kalsium (Ca2+); Magnesium (Mg+).

Ion negatif      : Klorida (Cl-); Fosfat (HPO4- dan H2PO4-); Bikarbonat (HCO3-).

Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain :
a)      Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b)      Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
c)      Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
d)     Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
e)      Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya :
§  Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL (Insensible Water Loss).
§  Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
§  Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake  cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
f)       Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.
g)      Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
h)      Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.





Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh

Ketidakseimbangan cairan
Ketidakseimbangan cairan meliputi dua kelompok dasar, yaitu gangguan keseimbangan isotonis dan osmolar. Ketidakseimbangan isotonis terjadi ketika sejumlah cairan dan elektrolit hilang bersamaan dalam proporsi yang seimbang. Sedangkan ketidakseimbangan osmolar terjadi ketika kehilangan cairan tidak diimbangi dengan perubahan kadar elektrolit dalam proporsi yang seimbang sehingga menyebabkan perubahan pada konsentrasi dan osmolalitas serum. Berdasarkan hal tersebut, terdapat empat kategori ketidakseimbangan cairan, yaitu :
  1. Kehilangan cairan dan elektrolit isotonik.
  2. Kehilangan cairan (hanya air yang berkurang).
  3. Penigkatan cairan dan elektrolit isotonis, dan;
  4. Penigkatan osmolal (hanya air yang meningkat).
Defisit Volume Cairan
Defisit volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler. Secara umum, defisit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.


Defisit Cairan
Faktor Resiko
Tanda klinis
  1. Kehilangan cairan berlebih
a.       Muntah
b.      Diare
c.       Pengisapan lambung
d.      Drainase/ sekresi dari luka/ Fistula
e.       Keringat berlebih
  1. Asupan cairan yang mengandung natrium dari diet atau obat- obatan.
  2. Nilai Laboratorium
§  Penurunan hematokrit
§  Penurunan hemoglobin
§  Penurunan BUN
§  Peningkatan CVP
  1. Gangguan sirkulasi
a.       Gagal jantung
b.      Gagal ginjal
c.       Sirosis hati


  • Kehilangan berat badan (mungkin juga penambahan berat badan pada kasus perpindahan cairan ke lokasi ketiga)
2% (ringan)
5% (sedang)
8% (berat)
  • Edema perifer
  • Nadi kuat dan frekuensi nadi meningkat
  • Peningkatan CVP dan tekanan darah
  • Bunyi nafas rales, dispnea, nafas pendek
  • Pengeluaran cairan melebihi asupan
  • Kemungkinan terjadi oliguria dan penurunan berat jenis urine (< 1,003)
  • Vena leher terdistensi dan kencang
  • Lambatnya pengosongan vena pada saat tangan diangkat
  • Konfusi mental


Edema
Pada kasus kelebihan cairan, jumlah cairan dan natrium yang berlebihan dalam kompartemen ekstraseluler meningkatkan tekanan osmotik. Akibatnya, cairan keluar dari sel sehingga menimbulkan penumpukan cairan dalm ruang interstitial (Edema). Edema yang sering terlihat disekitar mata, kaki dan tangan. Edema dapat bersifat lokal atau menyeluruh, tergantung pada kelebihan cairan yang terjadi. Edema dapat terjadi ketika adapeningkatan produksi cairan interstisial/ gangguan perpindahan cairan interstisial. Hal ini dapat terjadi ketika:
  1. Permeabilitas kapilermeningkat (mis., karena luka bakar, alergi yang
menyebabkan perpindahan cairan dari kapiler menuju ruang interstisial).
  1. Peningkatan hidrostatik kapiler meningkat (mis., hipervolemia, obstruksi
sirkulasi vena) yang menyebabkan cairann dalam pembuluh darahter dorong ke ruang interstisial.
  1. Perpindahan cairan dari ruangan interstisial terhambat (mis., pada blokade
limfatik).
Edema pitting adalah edema yang meninggalkan sedikit depresi atau cekungan setelah dilakukan penekanan pada area yang bengkak. Cekungan terjadi akibat pergerakan cairan dari daerah yang ditekan menuju jaringan sekitar (menjauhi lokasi tekanan). Umumnya, edema jenis ini adalah edema yang disebabkan oleh gangguan natrium. Adapun edema yang disebabkan oleh retensi cairan hanya menimbulkan edema non pitting.
Dehidrasi
Dehidrasi disebut juga ketidakseimbangan hiper osmolar, terjadi akibat kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit dalam jumlah proporsional, terutama natrium. Kehilangan cairan menyebabkan peningkatan kadar natrium, peningkatan osmolalitas, serta dehidrasi intraseluler. Air berpindah dari sel dan kompartemen interstitial menuju ruang vascular. Kondisi ini menybabkan gangguan fungsi sel dan kolaps sirkulasi. Orang yang beresiko mengalami dehidrasi salah satunya adalah individu lansia. Mereka mengalami penurunan respons haus atau pemekatan urine. Di samping itu lansia memiliki proporsi lemak yang lebih besar sehingga beresiko tunggi mengalami dehidrasi akibat cadangan air yang sedikit dalam tubuh. Klien dengan diabetes inspidus akibat penurunan hormon diuretik sering mengalami kehilangan cairan
tupe hiperosmolar. Pemberian cairan hipertonik juga meningkatkan jumlah solut dalam aliran darah.
Kelebihan Volume Cairan (Hipervolemia)
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir selalu disebabkan oleh penungkatan jumlah natrium dalam serum. Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan/ adanya gangguan mekanisme homeostatispada proses regulasi keseimbangan cairan. Penyebab spesifik kelebihan cairan, antara lain:
a.       Asupan natrium yang berlebihan
b.      Pemberian infus berisi natrium terlalu cepat dan banyak, terutama pada klien dengan gangguan mekanisme regulasi cairan.
c.       Penyakit yang mengubah mekanisme regulasi, seperti gangguan jantung (gagal ginjal kongestif), gagal ginjal, sirosis hati, sindrom Cushing.
d.      Kelebihan steroid.

Kelainan Elektrolit
Ada dua macam kelainan elektrolit yang terjadi ; kadarnya terlalu tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi Natrium dalam plasma darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak mengandung elektrolit termasuk natrium.
Banyak kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar natrium dalam plasma darah. Kondisi dehidrasi  akibat kurang minum air, diare, muntah-muntah, olahraga berat, sauna menyebabkan tubuh kehilangan banyak air sehingga darah menjadi lebih pekat dan kadar natrium secara relatif juga meningkat. Adanya gangguan ginjal seperti pada penderita Diabetes dan Hipertensi juga menyebabkan tubuh tidak bisa membuang natrium yang berlebihan dalam darah. Makan garam berlebihan serta penyakit yang menyebabkan peningkatan berkemih (kencing) juga meningkatkan kadar natrium dalam darah.
Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan gangguan syaraf.
Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium. Fungsi kalium sendiri mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini ibarat kunci dan anak kunci yang saling bekerja sama baik dalam mengatur keseimbangan osmosis sel, aktivitas saraf dan otot serta keseimbangan asam – basa.
Kondisi hiperkalemia atau meningkatnya kadar kalium dalam darah menyebabkan gangguan irama jantung hingga berhentinya denyut jantung, Kondisi ini merupakan kegawat daruratan yang harus segera diatasi karena mengancam jiwa. Beberapa hal yang menjadi penyebab meningkatnya kadar kalium adalah pemberian infus yang mengandung kalium, dehidrasi, luka bakar berat, kenjang, meningkatnya kadar leukosit darah, gagal ginjal, serangan jantung dan meningkatnya keasaman darah karena diabetes. Keadaan hiperkalemia ini biasanya diketahui dari keluhan berdebar akibat detak jantung yang tidak teratur, yang apabila dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran yang khas.
Kondisi yang berkebalikan terjadi pada hipokalemia, penderita biasanya mengeluhkan badannya lemas dan tak bertenaga. Hal ini terjadi mengingat fungsi  kalium dalam menghantarkan aliran saraf di otot maupun tempat lain. Penyebab hipokalemia lebih bervariasi, penurunan konsumsi kalium akibat kelaparan yang lama dan pasca operasi yang tidak mendapatkan cairan mengandung kalium secara cukup adalah penyebab hipokalemia. Terapi insulin pada diabet dengan hiperglikemia, pengambilan glukosa darah ke dalam sel serta kondisi darah yang basa (alkalosis) menyebabkan kalim berpindah dari luar sel (darah) ke dalam sel-sel tubuh.Akibatnya kalium dalam darah menjadi menurun.
Kehilangan cairan tubuh yang mengandung kalium seperti muntah berlebih, diare, terapi diuretik, obat-obatan, dan beberapa penyakit seperti gangguan ginjal dan sindroma Cushing (penyakit akibat gangguan hormon) juga menyebabkan penurunan kalium dalam darah. Penanganan kondisi hipokalemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium tinggi seperti buah-buahan, mengobati penyakit penyebabnya dan apabila kadar kalium darah rendah sekali dapat dikoreksi dengan memasukkan kalium melalui infus.

Penyebab
Tanda dan Gejala
HIPONATERMIA
  • Penyakit ginjal
  • Insufisiensi
  • Kehilangan melalui gastrointestinal
  • Pengeluaran keringat meningkat
  • Penggunaan diuretic (terutama yang disertai dengan diet rendah natrium)
  • Gangguan pompa natrium- kalium
  • disertai penurunan kalium sel dan natrium serum
  • Asidosis metabolic
Pemeriksaan Fisik: Denyut nadi cepat
namun lemah, hipotensi, pusing, ketakutan, dan kecemasan, kram abdomen, mual, dan muntah, diare, koma dan konvulsi, sidik jari meninggalkan bekas pada sternum setelah palpasi, koma, kulit lembab dan dingin,perubahan kepribadian.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: natrium serum < 135 mEq/ L, osmolalitas serum < 280 mOsm/ kg
HIPERNATREMIA
  • Mengkonsumsi sejumlah besar larutan pekat
  • Pemberian larutan salin hipertonik lewat IV secara iatrogenik
  • Sekresi aldosteron yang berlebihan
Pemeriksaan Fisik: demam tingkat rendah, hipotensi postural, lidah dan membran mukosa kering, agitasi, konvulsi, gelisah, eksitabilitas, oliguria/ anuria, rasa haus
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: natrium
serum > 145 mEq/L, osmolalitas serum >295 mOsm/ kg, dan berat jenis urine > 1,030(jika kehilangan air bukan disebabkan disfungsi ginjal)
HIPOKALEMIA
  • Penggunaan diuretik yang dapat  membuang kalium
  • Diare, muntah, muntah, atau kehilangan cairan yang lain melalui saluran g.i
  • Alkalosis
  • Sindrom Cushing atau tumor yang dapat memproduksi hormon adrenal
  • Poliuria
  • Pengeluaran keringat yang berlebihan
  • Penggunaan cairan IV- bebas kalium secara berlebihan
Pemeriksaan Fisik: denyut nadi lemah dan
tidak teratur, pernafasan dangkal, hipotensi,
kelemahan, bising usus menurun, blok
jantung (pada hipokalemia berat), parestesia,
keletihan, tonus otot menurun, distensi usus
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: kalium serum < 3 mEq/L menyebabkan depresi gelombang ST, gelombang T datar, gelombang U lebih tinggi, pada pemeriksaan EKG; kadar kalium serum 2 mEq/ L menyebabkan kompleks QRS melebar, depresi ST, inversi gelombang T (Raimer, 1994)
HIPERKALEMIA
  • Gagal ginjal
  • Dehidrasi hipertonik
  • Kerusakan seluler yang parah seperti akibat luka bakar dan trauma
  • Insufisiensi adrenal
  • Asidosis
  • Infus darah yang berlangsung cepat
  • Penggunaan diuretik yang mempertahankan kalium
Pemeriksaan Fisik: denyut nadi tidak
menurun dan lambat, hipotensi, kecemasan/ ansietas, iritabilitas, parestesia, kelemahan.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: kalium serum > 5,3 mEq/L menyebabkan repolarisasi lebih cepat (gelombang T mencapai puncaknya, frekuensi denyut jantung 60- 110), kadar kalium serum > 7mEq/L menyebabkan konduksi interatial
rusak (gelombang P lebar dan rendah)
sedangkan kadar kalium > 8 mEq/L
menyebabkan tidak adanya aktivitas atrial (tidak ada gelombang P) pada pemeriksaan EKG (Raimer, 1994)
HIPOKALSEMIA
  • Pemberian darah yang mengandung sitrat dengan cepat
  • Hipoalbuminemia
  • Hipoparatiroidisme
  • Defisiensi vitamin D
  • Pankreatitis
Pemeriksaan Fisik: baal dan kesemutan pada daerah jari- jari dan sirkumoral (daerah sekeliling mulut), refleks hiperaktuf, tanda trousseau positif (spasme karpopedal disertai
hipoksia), tanda Chvostek positif (kontraksi otot- otot wajah pada saat syaraf wajah tersebut diketuk), tetani, kram otot, fraktur patologis disertai hipokalsemia kronik.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: kalsium serum < 4,3 mEq/L dan perubahan EKG
HIPERKALSEMIA
  • Hiperparatiroidisme
  • Metastase tumor tulang
  • Penyakit Paget
  • Osteoporosis
  • Imobilitas yang lama
Pemeriksaan Fisik: penurunan tonus otot, anoreksia, mual dan muntah, kelemahan, letargi, nyeri pada punggung bagian bawah akibat batu ginjal, penurunan level kesadaran, henti jantung
Hasil Pemeriksaan Laboratorium: kalsium serum > 5 mEq/ L, sinar X menunjukan adanya osteoporosisyang menyeluruh, kavitasi tulang yang menyebar, dan batu saluran kemih radioopak (terlihat berwarna putih pada foto rontgen), peningkatan BUN > 25 mEq/ 100 ml, peningkatan kreatini > 1,5 mg/ 100 ml karena kekurangan cairan atau kerusakan renal akibat urolitiasis
HIPOMAGNESEMIA
  • Asupan yang tidak adequat: malnutrisi dan alkoholisme
  • Absorpsi yang tidak adequat: diare, muntah, muntah, drainase nasogastrik,  fistula, diet kalsium yang berlebihan, (bersaing dengan magnesium untuk mencari tempat transpor), penyakit usus kecil
  • Hipoparatiroidisme
  • Kehilangan magnesium yang berlebihan akibat penggunaan diuretik tiazid
  • Kelebihan aldosteron
  • Poliuria
Pemeriksaan Fisik: tremor otot, refleks tendon dalam yang hiperaktif, kebingungan, disorientasi, takikardi, tanda Chvostek dan tanda Trousseau positif
Hasil Pemeriksaan Laboratorium:
magnesium serum > 1,5 mEq/ L (juga
berhubungan dengan hipokalsemia dan
hipokalemia)
HIPERMAGNESEMIA
  • Gagal ginjal
  • Pemberian magnesium parenteral yang berlebihan
Pemeriksaan Fisik: pada hipermagnesemia akut: refleks tendon dalam hipoaktif, pernafasan dan frekuensi denyut jantung dangkal dan lambat, hipotensi, kemerahan
Hasil Pemeriksaan Laboratorium:
magnesium serum > 2,5 mEq/L









BAB III
METODELOGI PENELITIAN
Alat :
§  Lanset steril/ semprit 2 ml
§  Kapas alkohol 70%
§  Mikro pipet
§  Pipet Eppendorf
§  Tabung reaksi
§  Zentrifugen mikro
§  Vortex mixer
§  Fotometer klinikal varta 506
Reagen :
§  Darah manusia
§  Reagen kit sodium (Na+), potassium (K+),  (Cl-), Working reagen
(R2+ R3)
Prosedur :
1.      Pengambilan darah
Darah diambil kira-kira 1ml (tanpa puasa atau  dengan puasa), kemudian darah tersebut disentrifuge pada putaran 4500rpm selama 15 menit agar diperoleh serum darah.

2.      Penetapan kadar natrium
a.       Tahap pengendapan
§  Atur alat ke nol dengan reagen blanko
§  Masukan kedalam kuvet



Tube
Sampel
Standard
Sampel (
50
-
Standar ()
-
50
Reagen (ml)
3,0 ml
3,0 ml

§  Ambil plasma sebanyak 50, lalu dicampur reagen kit Na sebanyak 3ml dan biarkan selama 5 menit
§  Kemudian di vortex selama 30 detik dan diinkubasi selama 30 menit
§  Sentrifugasi sampel selama 5-10 menit pada 5000- 8000 rpm atau 2 menit pada 12000 rpm.

b.      Tahap kolorimetri
§  Masukkan kedalam kuvet
Tube
Blanko
Sampel
Standard
R1 (
50
-
-
Supernatan()
-
50
50
R2(ml)
3,0 ml
3,0 ml
3,0 ml

§  Campur dengan vortex dan inkubasi selama 5 menit pada suhu 37oC
§  Kemudian diukur kadarnya menggunakan fotometer klinikal. Stabil selama 30 menit.

3.      Penetapan kadar kalium
a.       Tahap pengendapan
§  Atur alat ke nol dengan reagen blanko
§  Masukkan kedalam kuvet
Tube
Macro
Semi - Macro
Sampel (
100
50
R1()
1000
500

§  Sampel di vortex dan disentrifuge selama 10 menit pada 4000 rpm atau 2 menit pada 12000 rpm
§  Ambil supernatant sampel

b.      Tahap kolorimetri
§  Masukkan kedalam kuvet


Tube
Blanko
Sampel
Standard
Working reagen (
2,0
2,0
2,0
Supernatan()
-
200
-
Standar (ml)
-
-
200

§  Campur dengan vortex dan inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C
§  Kemudian diukur kadarnya menggunakan fotometer klinikal
§  Stabil selama 30 menit



4.      Penetapan kadar klorida
§  Atur alat ke nol dengan regen blanko
§  Masukkan kedalam kuvet
Tube
Blanko
Sampel/standar
sampel (
-
10
standar()
10
-
Reagen(ml)
1000
1000

§  Ambil plasma sebanyak 10  lalu dicampur reagen kit Cl- sebanyak 1 ml
§  Kemudian di vortex selama 30 detik dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C
§  Ukur kadarnya menggunakan fotometer klinikal


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. HASIL
No.
Nama Mahasiswa
Kadar K+
Kadar Cl-
  1.  
Roerah Anggeraiani Ismawati
11,97 mmol/L
892,96 mmol/L
  1. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan uji elektrolit, dan sampel darah yang digunakan diambil dari pembuluh darah vena. Pertama tama yang dilakukan sebelum praktikum elektrolit adalah mengambil darah dari relawan dengan menggunakan spuit pada lengan bagian bawah, sebelumnya lengan diikat dengan tourniquet (digunakan untuk mengumpulkan darah). Setelah darah telah didapat kemudian di sentrifuse setelah di sentrifuse lalu ambil bagian atas yang merupakan serum plasma untuk kemudian diambil sesuai dengan prosedur yang diminta lalu ditambahkan dengan reagen setelah itu di vortex, setelah di vortex lalu diinkubasi. Setelah di inkubasi lalu di sentrifuse kurang lebih selama 15 menitan. Setelah di sentrifuse lalu diambil supernatant nya, ditambahkan dengan working reagen dan masukkan kedalam spektrofotometer varta 506 untuk melihat hasil kadarnya. Dari hasil praktikum kali ini data yang didapatkan adalah sebesar 11,97 mmol/L untuk kadar K+ sedangkan untuk kadar Cl- nya sebesar 892,96 mmol/L. Maka dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa kadar elektrolit (K+ ) di dalam serum itu dengan supernatan hasilnya sangat tinggi, karena hasil kadar elektrolit K+ yaitu  11,97 mmol/L sedangkan nilai normal seharusnya yaitu kiasaran antara 3,6-5,5 mmol/l. Untuk kadar elektrolit (Cl-) hasilnya juga diatas normal.Hasil ini bisa benar atau tidak, karena pada saat dipipet serum bisa saja menetes keluar dari pipet dan juga mungkin terjadi kesalahan lain.
Menurut teori ada dua macam kelainan elektrolit yang dapat terjadi ; kadarnya terlalu tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi Natrium dalam plasma darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak mengandung elektrolit termasuk natrium.
Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan gangguan syaraf.
Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium. Fungsi kalium sendiri mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini ibarat kunci dan anak kunci yang saling bekerja sama baik dalam mengatur keseimbangan osmosis sel, aktivitas saraf dan otot serta keseimbangan asam – basa.
Kondisi hiperkalemia atau meningkatnya kadar kalium dalam darah menyebabkan gangguan irama jantung hingga berhentinya denyut jantung, Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang harus segera diatasi karena mengancam jiwa. Beberapa hal yang menjadi penyebab meningkatnya kadar kalium adalah pemberian infus yang mengandung kalium, dehidrasi, luka bakar berat, kenjang, meningkatnya kadar leukosit darah, gagal ginjal, serangan jantung dan meningkatnya keasaman darah karena diabetes. Keadaan hiperkalemia ini biasanya diketahui dari keluhan berdebar akibat detak jantung yang tidak teratur, yang apabila dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran yang khas.
Kondisi yang berkebalikan terjadi pada hipokalemia, penderita biasanya mengeluhkan badannya lemas dan tak bertenaga. Hal ini terjadi mengingat fungsi  kalium dalam menghantarkan aliran saraf di otot maupun tempat lain. Penyebab hipokalemia lebih bervariasi, penurunan konsumsi kalium akibat kelaparan yang lama dan pasca operasi yang tidak mendapatkan cairan mengandung kalium secara cukup adalah penyebab hipokalemia. Terapi insulin pada diabet dengan hiperglikemia, pengambilan glukosa darah ke dalam sel serta kondisi darah yang basa (alkalosis) menyebabkan kalim berpindah dari luar sel (darah) ke dalam sel-sel tubuh.Akibatnya kalium dalam darah menjadi menurun.
Kehilangan cairan tubuh yang mengandung kalium seperti muntah berlebih, diare, terapi diuretik, obat-obatan, dan beberapa penyakit seperti gangguan ginjal dan sindroma Cushing (penyakit akibat gangguan hormon) juga menyebabkan penurunan kalium dalam darah. Penanganan kondisi hipokalemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium tinggi seperti buah-buahan, mengobati penyakit penyebabnya dan apabila kadar kalium darah rendah sekali dapat dikoreksi dengan memasukkan kalium melalui infus.

     



BAB V
KESIMPULAN
1)      Dari hasil praktikum kali ini data yang didapatkan adalah sebesar 11,97 mmol/L untuk kadar K+ sedangkan untuk kadar Cl- nya sebesar 892,96 mmol/L.
2)      Alat yang digunakan untuk uji elektrolit adalah fotometer klinik varta 506.
3)      Ada dua macam kelainan elektrolit yang dapat terjadi ; kadarnya terlalu tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar konsentrasi Natrium dalam plasma darah atau disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh. Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak mengandung elektrolit termasuk natrium. Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan gangguan syaraf.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
§  Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester. EGC, Jakarta, 2004.
§  Almatsier, S, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia, Jakarta, 2003.
§  Barbara Kozier, Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice, Fifth Edition, Addison Wesley Nursing, California, 1995.
§  Cheng, Y.L. and Yu, A.W. Water-Electrolyte Balance. In Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition, Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,. Academic Press. 2003.
§  Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, Sixteenth Edition, Mosby, St. louis, Missouri, 1999.
§  Graves-Freeland ,J.H & Trotter P.J. Mineral-Dietary Importance. In Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition, Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,. Academic Press. 2003.
§  G.R. Ahmad & D.R.Ahmad, Electrolytes Analysis. In Encyclopedia of Food Sciences & Nutrition, 2nd Edition, Caballero, B. Trugo, L.C., & Finglas, P.M.,Eds,. Academic Press. 2003.
§  Schieberle, P., Grosch, W. And Belitz,H.D. Food Chemistry, 3d ed Springer, Garching, 2004.
§  Sherwood, Lauralee. Human Physiology: From cells to system.
 5th ed. Brooks/Cole-Thomson Learning Inc, California, 2004.
§  Silverthorn, D.U. Human Physiology: An Integrated approach. 3th ed. Pearson Education, San Fransisco, 2004.
§  Sylvia Anderson Price, Alih bahasa : Peter Anugerah, Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi kedua, EGC, Jakarta, 1995.
§  Tamsuri, Anas. Seri Asuhan Keperawatan “Klien Gangguan Keseimbangan Cairan & Elektrolit”. EGC,  Jakarta, 2009.



























LAMPIRAN
Hasil Praktikum Elektrolit

Reagen
 
Alat
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar